Saturday, 15 June 2024
above article banner area

Mengenal thaharah mengenai keseluruhan mandi dari berbagai persoalan

 

Mengenal thaharah mengenai keseluruhan mandi dari berbagai persoalan

 

Nama    :             DivaAlicaTwin Bernika Putri

 

NIM      :             210512520016

 

Mandi merupakan kegiatan yang melembapkan seluruh tubuh dengan air. Dalam Islam, mandi adalah bagian dari hukum Syariah, menurut Allah swt. “Jika kamu junub, maka mandilah.” (al-Mä’idah [5]: 6)

 

Berikut beberapa pembahasan terkait mandi.

 

A.Hal-hal yang mengharuskan seseorang mandi.

  1. 1. Keluarnya  mani   karena  syahwat,   baik   saat   tidur maupun terjaga, laki-laki atau perempuan.Hal ini adalah kesepakatan para ahli fiqih.berdasarkan sebuah hadits yang diriwayatkan AbiSaid. Ia  bercerita bahwa  Rasulullah  saw. bersabda ,

 

“Mandi (wajib) dilakukan karena mani.”

 

Ummu Salamahra pun mengatakan kepada Ummu Sulaim: “Rasulullah, Allah tidak malu dengan kebenaran. Apabila seorang wanita bermimpi, apakah ia juga harus mandi? “Rasulullah   menjawab,   “Ya,   apabila   dia   mengeluarkan mani.” Berikut beberapa hal terkait hal tersebut yang sering terjadi. Jika air mani mengalir bukan karena rangsangan seksual, tetapi karena sakit  atau cuaca dingin, maka  tidak perlu bak mandi besar. Mujahid berkata, “Ketika kami-Ibnu Abbas, Thawus, Said bin Jubair, dan Ikrimah-sedang berada di masjid, dan Ibnu Abbas sedang melaksanakan shalat, datanglah seorang lelaki menemui kami. la berkata, ‘Adakah mufti di antara kalian?’ Lelaki itu berkata, ‘Setiap kali akukencing,   selalu   ada   air   kental   yang   ikut   keluar.’

‘Maksudmu air mani?’

tanya kami. ‘Ya, jawab lelaki itu. Kami berkata kepadanya,

‘Kamuwajib mandi (karenanya).’ Lelaki itu kemudian pulang. Ibnu Abbas terlihat segera menyelesaikan shalatnya . Rasulullah saw. bersabda,

 

“Ahli fiqih lebih sulit (digoda) setan dari pada seribu orang ahli ibadah”

 

Lelaki       itu    datang    kembali.    Ibnu    Abbas menemuinya danberkata, Jika air mani itu keluar, apakah kamu  merasakan  dorongansyahwat?’  pria  itu  menjawab,

‘Tidak.’ ‘Apakah kamu merasakan getaran dalam dirimu saat cairan keluar?’tanya Ibnu Abbas. ‘Tidak,’ jawab pria tersebut. Jika seperti itu, itu hanyalah mani yang keluar karena suhu dingin. Maka Kamu hanya cukup berwudu saja.”

 

-Jika mimpi basah, tapi tidak ada cairan keluar, maka tidak wajib mandi.

 

Di dalam hadits Ummu Sulaim didepan telah dijelaskan bahwa seorang perempuan yang mimpi basah wajib mandi, jika ia mengeluarkan cairan saja. Rasulullah saw. bersabda,

 

“Ya, jika ia mengeluarkan mani.”

Artinya, apabila tidak ada cairan keluar, maka perempuan tersebut tidak wajib mandi.Namun, jika air mani itu keluar juga setelah ia bangun, maka ia tetap wajib mandi.

-Jika   sescorang   terbangun   dari   tidur  dan  menemukan cairan  keluar tapi  ia  tidak ingat bahwa ia  mimpi basah,

maka ada dua kemungkinan sebagai berikut.

Pertama,  jika ia  yakin bahwa  itu adalah  mani, maka la wajib  mandi.Air mani  iru  pastilah  keluar  karena  mimpi yang terlupa.

Kedua,  jika   tidak   yakin  itu   mani   atau   bukan,   maka sebaiknya mandi. Mujahid dan  Qatadah  berkata,  “Orang itu tidak wajib mandi hingga ia benar-benar  yakin bahwa cairan  itu adalah  mani, sebab  kondisi awal  adalah  suci, dan  keyakinan akan  kesucian tidak bisa  dihapus  dengan keragu-raguan.”

mengaitkan kewajiban mandi dengan keluarnya mani. Jika air mani tidak keluar, maka  tidak  wajib mandi. Akan  Tetapi, apabila saat kemudiancairan mani keluar,misal saat orangsedang berjalan,maka wajib mandi.

 

-Jika      seseorang    menemukan   cairan    mani  dipakaian yang  ia  pakai,tetapi  ia  tidak  tahu  dari  mana  cairan  itu berasal,  padahal  ia  sudah  melaksanakan  shalat,  maka  ia wajib mengulangi semua shalatnya,mulai dari tidur terakhir yang  ia  lakukan.  Kecuali  jika  ia  yakin bahwa  cairan  itu berasal  dari  mimpi atau  tidur       jauh sebelum ia melaksanakan shalat, maka ia tidak perlu mengulangi shalat. la hanya perlu mengulangi shalat terdekatnya

 

  1. 2. Sanggama,

yakni masuknya penis ke dalam vagina, meski tidak sampa orgasme (muncratnya air mani). Allah swt. berfirman,

 

“jika      kamu      junub,      maka      mandilah.” (al-Ma’idah[5]: 6)

 

Yang dimaksud dengan sanggama ialah masuknya penis ke vagina. Jika (penis) hanyadisentuhkan tanpa dimasukkan (kedalam vagina), maka keduanya tidakwajib mandi. Ini adalah pendapat jumhur ulama.

 

  1. 3. Ketika masa nifas dan haid berakhir.

Allah swt. berfirman, dan jangan dekati dia sebelum suci. Apabila ia sudah suci, diperbolehkan engkau mencampuri mereka sesuai perintah Allah” (al-Baqarah [2]: 222)

 

Rasulullah saw.  pernah berkata kepada Aisyah  binti  Abi

Hubaisi r.a.,

“Tinggalkanlah shalat di hari-hari selama kamu haid, lalu mandilah dan lakukanlah shalat.”

 

Hadits   itu,   menjelaskan  tentang   haid,   akantetapi   nifas tersebut dianalogikan samadengan haid, sesuai konsensus para sahabat. Apabila seorang wanita melahirkan, tetapi ia tidak mengeluarkan darah, maka ada dua pendapat: (1) wajib mandi dan (2)tidak wajib     mandi.     Tidak ada yang menerangkan hal ini.

 

4.Kematian.  Jika seorang muslim meninggal, maka ia wajib dimandil.Masalah ini akan dijelaskan nanti di bab tersendiri.

 

 

5.Seorang kafir yang masuk Islam.

Abu Hurairah r.a. bercerita bahwa Tsumamah al- Hanafi telah menjadi tawanan perang. Rasulullah saw, mendatanginya dan berkata,

 

“Apa yang engkau miliki, wahai Tsumamah?”

 

Tsumamah mengatakan, “apabila engkau membunuh- (ku), maka sebenarnya kau membunuh seorang dzimmi; dan jika

 

engkau berbelas kasihan (kepadaku), maka sesungguhnya engkau telah memberikan kasih kepada orang yang pandai bersyukur; dan jika engkau menginginkan harta, maka aku akan memberikan apa yang engkau mau.” Pada saat  itu, para sahabat Nabi saw. lebih menginginkan harta tebusan tersebut. Mereka berkata, “Apa yang kita peroleh dengan membunuh orang ini?” Lalu Rasulullah saw, meninggalkan Tsumamah. Tidak lama kemudian Tsumamah masuk Islam, kemudian  dibebaskan, dan  diperintahkan pergi  ke  taman Abu   Thalhah   untuk   mandi.   Tsumamah   mandi   dan melaksanakan shalat dua rakaat.

Nabi saw. berkata,

“Sungguh sangat baik keislaman saudara kalian ini.

 

  1. B. Hal hal yang diharamkan orang yang sedang berjunub

1.Shalat

2.Thawaf

3.Menyentuh

menyentuh atau membawa membawa mushaf Al-Qur’an. Larangan untuk mushaf ini disepakati oleh para ulama.Tidak ada satupun sahabat yang memiliki pendapat berbeda. Contohnya Dawud dan Ibnu Hazm membolehkan seorang junub

atau       membawa    mushaf.    Mereka    berdua berlandaskan pada sebuah hadis sahih yang bercerita bahwa Rasullullah saw. megirimkan surat kepada Sand Heraclius, yang  di   dalamnya  terdapat  tulisan  basmalah  dan  ayat, “Katakanlah  (Muhammad),  ‘Wahai  Ahlul  Kitab!  Marilah (kita)  menuju  kepada  satu  kalimat  (pegangan) yang  sama antara kami dan kamu, dan bahwa kita    tidak      menyembah selain       Allah      dan                                tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, dan kita tidak menjadikan satu  sama  lain  tuhan-tuhan  selain  Allah.  Jika mereka   berpaling   maka   katakanlah   (kepada   mereka),

‘Saksikanlah,bahwa kami adalahorang  yang  berserah  diri.” (Ali Imrân [3]: 64)

 

Ibnu  Hazm  mengatakan,  “Lihat,  Rasulullah  saw. mengirimkan sebuah surat yang di dalamnya berisi ayat kepada orang-orang nasrani, dan beliau pasti yakin bahwa mereka akan memegang surat tersebut.” Pendapat     ini dibantah  mayoritas  ulama  dengan  mengguunakan argumentasi yang dikirim Rasulullah saw. hanya salah satu surat  yang  memiliki  kandungan  Al-Qur’an  serta  bukan mushaf. Surat seperti ini tidak ada bedanya dengan surat lain, buku  tafsir,  kitab  fiqih,  dan  lainnya.  Tidak  ada  larangan untuk menyentuh atau memegangnya.

 

4.Membaca Al-Qur’an. Menurut jumhur ulama,

orang   yang   sedang   junub   sangat   dilarang   membaca

Al-Qur’an. Ali bin Abu Thalib

bercerita bahwa Rasulullah saw. tidak r.a. pernah meninggalkan Al- Qur’an kecuali pada saat beliau junub.’ Al-Hafizh berkata didalam al- Fath ,sebagian ulama berkata bahwaperawi hadits itu dhaif. Yang benar, hadits itu hasan dan dijadikan sebagai dalil. Ali bin Abu Thalib r.a, memberikan cerita mengenai Rasulullah saw, yang pernah melakukan wudhu setelah itu membaca Al-Qur’ an. Lalu ia bersabda.

 

”inilah (yang seharusnya dilakukan) oleh orang- orang yang tidak junub. Adapun orang yang sedang junub, maka ia dilarang membaca Al-Qur’an, meskipun hanya satu ayat”

 

Haitsami berkata, “Para perawi hadits ini bisa

bisa dipercaya.” syaukani mengatakan, “Jika hadits ini sahih,

maka bisa dijadikan dalillarangan membaca Al-Qur’an (bagi orang yang junub). Adapun hadits pertama, tidak mengandung larangan karena hanya bercerita mengenai Rasulullah saw. meninggalkan Al-Qur’an pada saat ia junub.Hal ini tidak bisa dijadikan landasan untuk sebuah imbauan   agar   tidak   melaksanakan   (karahah),   apalagi sebagai sebuah larangan.”

 

Bukhari, Thabrani, Dawud, dan Ibnu Hazm, memperbolehkan orang yang junub membaca Al-Qur’an.

 

Bukhari berkata, “Kata Ibrahim, tidak apa-apa seorang yang sedang haid  membaca Al-Qur’an. Ibnu Abbas juga  tidak mempermasalahkan orang junub yang  membaca

Al-Qur’an.Rasulullah senantiasa menyebut Asma Allah di setiap saat.” Mengomentari    hal     ini,      al-Hafizh berkata, “Menurut Bukhari, tidak ada satu pun hadits yang sahih dalam hal ini, yakni larangan bagi orang yang sedang junub dan haid membaca Al- Qur’an.Meskipun hadits-hadits yang  menerangkan  hal  ini,  bagi  sebagian  orang,  bisa dijadikan dalil.Tetapi,pada   hakikatnya   kebanyakan   dari hadits tersebut masih mengandung penafsiran-penafsiran.

 

5.Berdiam diri di dalam masjid.

Aisyah .a. bercerita mengenai ketika Rasulullah saw. mengunjungi (ke Madinah), rumahpara sahabat berada di sekitar masjid (dan menghadap masjid). Belau bersabda,

 

“Alihkan arah rumah-rumah ini dari masjid.”

 

Ketika  Rasulullah  saw.  kembali  ke  rumah  beliau,  para sahabat tidak melakukan apa-apa. Mereka mengharap beliau akan   memberikan   dispensasi   bagi   mereka.   Rasulullah kembali menemui mereka

dan bersabda,

 

‘Alihkan arah rumah-rumah ini dari masjid. Saya tidak akan membolehkan orang yang sedang haid atau junub akan berada di dalam masjid.’

 

Ummu Salamah r.a. juga bercerita bahwa Rasulullah saw. memasuki halaman Masjid Nabawi serta mengatakan,

 

“Sesungguhnya masjid tidak boleh disinggahi orang yang haid,dan junub.”

 

hadits di atas menerangkan larangan berdiam diri di dalammasjid bagi orang yang sedang haid dan junub. Namun demikian diperbolehkan bagi mereka untuk sekadar melewatinya. Jabir r.a berkata, “Salah seorang di antara kami melewati masjid ketika ia sedang junub.” Pendapat ini diriwayatkan oleh Ibnu    Abi Syaibah dan Said bin Manshur di dalam as- Sunan.

 

Ibnu Mundzir bercerita bahwa Zaid bin Aslam berkata, “Para sahabat Nabi biasa berjalan di dalam masjid pada saat mereka sedang junub.” Yazid bin Abi Habib bercerita bahwa rumah- rumah orang orang Anshar menghadap masjid.

 

Syaukani memberikan peneguhan pada semua penjelasan diatas, “Ini menunjukkan bahwa larangan tersebut mengacu pada sebuah tempat (yakni masjid), dan tidak ada lagi keraguan di dalamnya.

 

Aisyah r.a  menceritakan tentang Rasulullah saw.  bersabda kepadanya,

 

 

“Ambilkan aku minuman dari  masjid.” Aisyah menjawab, “saya sedang haid.” Rasulullah saw. bersabda, “Haid merupakan bukan karena  kehendakmu.Mandi yang Disunnahkan

Maksud  dari  mandi  sunnah  adalah  mandi  yang  apabila orang melakukannya mendapatkan pahala, dan apabila tidak melakukannya tidak mendapatkan siksa dan cela.

Ada enam mandi sunnah yang akan kami jelaskan

  1. Mandi Jumat.

hari Jumat adalah hari ibadah, maka Allah memberikan perintah  untuk  Bersih  dan  suci.  Abi  Said  r.a  bercerita bahwa Rasulullah

saw. bersabda,

 

“Mandi  saat  hari  Jumat  ialah  hal  wajib  utuk  seorang telah mimpi basah. Begitu pula dengan siwak serta (dianjurkan juga) untuk memakai wewangian jika ia mampu.

 

Yang dimaksud dengan “orang yang mimpi basah” di dalam hadits di atas adalah “orang yang telah balig”.   kata “wajib”di  atas  bermakna  “dianjurkan”.         Syaf’i mengatakan, “Ketika Utsman dan Umar tau    mandi (pada hari Jumat) adalah pilihan (sunnah).”

 

Abu    Hurairah    r.a    juga    bercerita    bahwa

Rasulullah saw. bersabda,

 

“Baning siapapun yang berwudhu, lalu ia menyempurnakan lagi wudhunya, kemudian pergi melaksanakan    shalat jumat, mendengarkan (khotbah) dan bersikap tenang, maka dosanya antara Jumat dan jumat berikutnya akan,diampuni, ditambah lagi dengan tiga hari berikutnya ”

 

Untuk semakin meneguhkan bahwa mandi Jumat adalah sunah, Qurthubi berkata, “Menyebutkan wudhu sekaligus dengan pahala- pahala yang menyertainya menunjukkan bahwa dengan wudhu saja itu sudah cukup.”

 

 

Di  dalam at-Talkhish, Ibnu  Hajar  berkata, “Hadits di  atas adalah  dalil  palingsahih  yang  menunjukkan  bahwa  mandi tidaklah wajib, dan meneguhkan   bahwa    itu adalah sunnah.Sebab,tanpa mandi pun tidak akan ada kesalahan atau keburukan yang bisa terjadi. apabila seseorang tidak mandi Jumat mengganggu orang sekitar lainnya, misal dengan bau badan , maka mandi menjadi hal wajib. Tidak boleh tidak mengerjakannya.   sebagian   orang   mengakatakan   bahwa mandi Jumat adalah wajib, meski tidak akan mendatangkan dosa apabila tidak dilaksanakan.

 

Mereka memaknai hadits yang menerangkan mandi Jumat secara literal, dan tidak menerima adits yang bertentangan dengannya.     dianjurkannya mandi Jumat itu dimulai dari terbitnya matahari sampai waktu shalat Jumat tiba, Jika seseorang berhadats setelah ia mandi, maka cukup baginya berwudhu.

 

Atsram bercerita bahwa Ahmad pernah ditanya tentang seseorang

yang   mandi   lalu   berhadats.   Apakah   boleh   baginya berwudhu saja? Ahmad menjawab, “iya, Aku tidak mengetahui hadits yang lebihbagus daripada riwayat Ibnu Abza.” Ahmad kemudian menceritakan apa yang diriwayatkan  oleh  Ibnu  Abi  Syaibah  dengan  sanad  yang

sahih.  Masa  sunnah  mandi  Jumat  berakhir  ketika  shalat Jumat sudah dilakukan. Jika orang mandi setelah shalat Jumat, maka ia tidak lagi mendapatkan pahala sunnah.

 

  1. Mandi pada Hari Raya Fitri dan Adha.

 

Para ulama  bersepakat mengenai mandi pada hari raya Idul Fitri dan Idul Adha adalah sunnah, meskipun tidak ada satu pun hadits sahih yang menjelaskan hal tersebut. Di   dalam   kitab   al-Badr   al-Munir   disebutkan   bahwa hadits-hadits tentang mandi pada hari raya Idul Fitri dan Idul   Adha   adalah   dhaif.   Meskipun   demikian,   ada pendapat- pendapat yang baik dari para sahabat Rasulullah saw.

 

  1. 3. Mandi apabila setelah memandikan mayat.

 

Menurut sebagian besar ulama, orang yang memandikan mayat disunnahkan untuk mandi. Abu Hurairah r.a. bercerita mengenai Rasulullah saw. ,

 

“siapapun yang memandikan mayat, setelah itu dianjurkanlah mandi serta orang yang terlibat membawa jenazah, maka berwudhulah.”

 

Ada beberapa ulama yang mengkritisi hadits tersebut. Ali bin  Madani, Ahmad, Ibnu  Mundzir, Raft’i,  dan  lainnya berkata  bahwa  para  ulama  hadits,  dalam  persoalan  ini, tidak benar. Namun, mengenai hadits tersebut, al-Hafizh Ibnu   Hajar  memberikan  komentar,  “Tirmidzi  berkata bahwa hadits ini hasan. Ibnu Hibban mengatakan hadits ini sahih.  Karena  begitu  banyak  riwayat  yang menceritakannya, paling tidak hadits ini adalah hasan. Ketidaksetujuan Nawawi terhadap pendapat Tirmidzi bahwa hadits ini hasan tidak bisa diterima.

 

 

4.Mandi  ketika  mengenakan kain  ihram. Menurut sebagian  besar  ulama,  orang  yang  akan  melaksanakan ihram, baik untuk ibadah haji ataupun    umrah,

disunnahkan    untukmandi   terlebih   dulu.   Zaid   bin Tsabit bercerita bahwa Rasulullah saw.pernah pergi meninggalkan keluarga beliau dan mandi.’

5.Ketika masuk ke Kota Mekah

Disunnahkan bagi orang yang akan memasuki kota Mekah untuk terlebih dahulu mandi.Diceritakan bahwa Ibnu Umar r.a setiapkali akan memasuki kota Mekah selalu menginap di Dzi Thuwa, lalu pada esok harinya, di siang hari,baru ia memasuki kota Mekah.

 

Ibnu   Mundzir   mengakatakan   Mandi   pada   sat   akan memasuki  kota  Mekah  adalah  sunnah  serta  orang  yang tidak melakukannya tidak usah membayar denda.

 

6.Ketika melaksanakan wukuf di Arafah.

Orang yang akan melaksanakan wukuf di Arafah disunnahkan untuk mandi (terlebih dulu). Malik menceritakan  bahwa   Abdullah  bin   Umar   r.a.  mandi terlebih dulu saat akan melaksanakan ihram, ketika akan memasuki kota Mekah, dan pada saat wukuf di Arafah.

 

A.Rukun-Rukun Mandi

Mandi yang sesuai dengan aturan syariat. minimal harus memenuhi

dua hal berikut ini.

  1. 1. Niat.

Niat adalah esensi yang membedakan sebuah praktik ibadah

 

dengan kebiasaan (adat). Niat adalah aktivitas murni hati. Praktik-praktik yang banyak dilakukan oleh orang-orang dengan mengucapkan niat dari mulut adalah tindakan bid’ah (muhaddats) yang tidak ada sandarannya di dalam syariah. Dan itu adalah sesuatu pembahasan wudhu di muka. yang, harus dihilangkan. Kami sudah membahas persoalan niat dalam

 

  1. 2. Membasuhi semua anggota badan. Allah swt. berfirman,

“Jika kamu junub, maka segera bergegas mandi.” (al-Ma’idah [5]: 6)

Yang dinamakan dari mandi adalah membasahi seluruh tubuh dengan air.

 

B.Sunnah-Sunnah Mandi

Orang yang akan melaksanakan mandi segeraah meneladani yang  dilakukan  Rasulullah  saw.  saat  beliau mandi. Dengan cara seperti dibawah ini.

  1. membasuh tangan tiga kali.
  2. 2. Membasuh  kemaluan.
  3. Berwudhu dengan  sempurna, seperti wudhu  saat pelaksanaan shalat,

yang dilakukan tapi ia bisa menunda

pada membasuh kakinya hingga ia mandi jika ia mandi memakai bakmandi.

  1. Mengguyur kepala   dengan   air  tiga   kali   sambil membilasi rambutnya,

hingga air meresap ke dalam kulit kepala.

  1. Membasahi  seluruh badan,  dengan cara membasahi tubuh bagian

m kanan terlebih dahulu. Hal ini dilanjutkan dengan membersihkan

ketiak,dalam telinga, pusar,sela jari-jari, serta menggosok seluruh    badan.

Tata  cara  di  atas  berdasarkan sebuah  hadits  yang diriwayatkan oleh Aisyah r.a, bahwa Rasulullah saw. setiap kali mandi junub selalu memulai dengan membasuh kedua tangan,   lalu   membasuh   kemaluan,   kemudian   berwudhu seperti wudhu sat akan melaksanakan shalat, lalu mengguyur kepala dengan air dan membilas rambut beliau. Ketika beliau sudah yakin air itu  meresap ke dalam kulit  kepala, beliau membilasnya  tiga   kali.  Dan  akhirnya   beliau  membasuh seluruh tubuh. Ketika beliau merasa air itu merata di kulit kepala, beliau membasuhnya sebanyak tiga kali,     baru kemudian membasuh seluruh tubuh . Aisyah r.a juga bercerita bahwa Rasulullah saw., ketika mandi junub,meminta air dan memulai dengan membasuh kepala bagian kanan, lalu bagian kiri. Kemudian beliau mengambil air untuk menyirami kepala secara keseluruhan . Maimunah r.a. bercerita, “Aku pernah mengambilkan air untuk mandi Rasulullah. Beliau          lalu membasuh          kedua tangan, membasuhnya dua atau tiga kali, lalu membasuh kemaluan beliau, lalu berkumur-kumur dan membersihkan hidung dengan air, lalu membasuh wajah dan kedua tangan beliau, lalu membasuh kepala tiga kali, dan kemudian membasahi seluruh tubuh. Kemudian beliau berdiri dan  membasuh  kedua  kaki.  Lalu  ia  membawakan handuk akan tetapi beliau menolak. Dan     Beliau mengeringkan air dengan tangan.

 

  1. C. Cara Perempuan Mandi

Tata cara  mandi bagi perempuan sama dengan laki-laki. Perempuan tidak perlu membuka kepang rambutnya, jika ia harus yakin air bisa meresap ke dalam kulit kepalanya.

 

“Cukup membasuh menggunakan air tiga kali, lalu siram

seluruh  tubuhmu.   Dengan  begitu   kamu   telah   berrsuci meskipun rambut dalam keadaan gimbal atau kepang.”

 

Ubaid bin Umair r.a berkata, ‘Suatu     kali   Aisyah r.a. mendengar berita bahwa Abdullah bin    Umar

r.a. melepas kepang rambut mereka memerintah para wanita untuk mandi. Aisyah r.a. berkata, “Sungguh aneh Ibnu Umar itu , Dia memerintah para wanita untuk membuka kepang rambut mereka?       Kenapa tidak       sekalian     menyuruh mereka memotong kepala mereka? Aku pernah mandi

bersama Rasulullah saw. dalam satu tempat, serta aku hanya

membasuh kepalaku tiga kali.”

 

Perempuan yang mandi setelah masa haid dan nifas berakhir, disunnahkan untuk mengambil kapas yang telah diberi wewangian,  semisal  minyak  kasturi,  lalu  membersihkan tempt sisa- sisa aliran darah hingga bersih dan aroma yang tidak enak menghilang. cara bersucinya, yaitu siramilah kepalanya dengan air  dan     bilaslah  dengan kuat, hingga air itu terserap di kulit kepala, siramilah lagi dengan air,

lalu  ambillah  kapas  yang  sudah  diberi  wewangian  dan bersucilah dengan dia.”

 

 

  1. D. Hal-Hal yang Berkaitan dengan Mandi

 

Berikut merupakan persoalan terkait dengan mandi.

  1. Seseorang bisa melakukan  satu  kali  mandi  untuk dua hal, misalnya mandi  untuk  junub  dan haid;  untuk pergi shalat  jumat  dan  hari raya; atau  orang junub yang  akan  pergi shalat  jumat,  dengan  catatan meniatkan mandi  itu untuk  keduanya.  Rasulullah saw. bersabda,

 

“Dan sesungguhnya setiap orang bergan tung pada apa yang diniatkan.”

 

  1. Jika ada orang yang  sudah  mandi  karena junub, tapi  ia tidak  melakukan wudhu,  boleh  baginya  tidak berwudhu. Mandi yang ia lakukan sudah mewakili. Aisyah  r.a.  bercerita  bahwa  Rasulullah  tidak  berwudu setelah mandi.

 

Ibnu  Umar  r.a.  bercerita  bahwa  ada  seseorang  berkata kepadanya.

“Saya  berwudhu  ketika  usai  mandi  besar.”  Kata  Ibnu

Umar, “Engkau melakukan berlebihan.’

Abu Bakar Ibnu Arabi berkata, “Tidak    ada ulama yang menentang bahwa wudhu sudah bisa terwakili dengan mandi. Niat bersuci dari junub sudah mewakili bersuci dari hadats, sebab hal- hal yang dilarang karena junub lebih banyak daripada hal-hal dilarang karena hadats. Jadi, sesuatu yang  kecil  sudah terwakili  oleh  hal  yang  lebih besar. Niat hadats akbar sudah mencukupinya.”

 

  1. Boleh mandi bersama di dalam satu  tempat  mandi, jika  masing  tidak  saling  melihat  aurat  yang  lain,  dan orang-orang di luar tidak melihat aurat mereka.

 

“Seorang  pria  tidak  boleh  melihat  aurat  sejenisnya,dan begitu juga wanita dilarang melihat aurat wanita lainnya.’

 

Berzikir kepada Allah di dalam kamar mandi tidaklah dilarang, sebab berzikir kepada Allah bisa dilakukan dimana saja, dan itu tindakan yang baik. Selama tidak ada hal yang melarangnya.  Rasulullah  saw        senantiasa  berzikir sepanjang waktu.

 

 

  1. Mengeringkan  anggota   tubuh    dengan   handuk atau  sapu tangan  pada saat mandi atau berwudhu tidaklah dilarang. Baik pada musim dingin maupun musim panas.

 

  1. Seorang lelaki (suami) boleh mandi  memakai  sisa air yang digunakan perempuan (istri). Begitu juga sebaliknya. Boleh juga mandi bersama dalam satu tempat. Ibnu Abbas r.a. bercerita bahwa suatu hari sebagian dari istri- istri Rasulullah saw. mandi di bakmandi. Beliau datang dan  ingin  berwudhu  dengan  (sisa)  air  tersebut.  Salah seorang dari mereka berkata, “Wahai Rasulullah, aku mandi junub.” jawab rasulullah,

 

“Sungguh, air tersebut tidak junub.”

 

Aisyah r.a, juga pernah mandi bersama Rasulullah saw. dari mandi. Bahkan mereka saling berebut. Kata Rasulullah,

 

“Berikan air tersebut untukku ”

Kata Aisyah, “Tidak. Berikan itu untukku ”

 

  1. Dilarang mandi telanjang apabila di keramaian, karena adalah perbuatan terlarang. apabila ada penutup, seperti kain, maka itu lebihbaik dijadikan penutup    aurat.    Rasulullah saw.  pernah  (mandi)  dengan  ditutupi  kain  oleh  Fatimah. Adapun mandi telanjang di

tempat  yang  sepi,  jauh  dari  keramaian,       adalah  hal diperbolehkan. Musa a.s. pernah mandi telanjang.

 

Sumber  :  Sabiq,Sayyid.2009.FiqhusSunnah.Jakart aPusat:PenaPundiAksa

Share
below article banner

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *