Saturday, 15 June 2024
above article banner area

PENGERTIAN DAN PEMBAGIAN FUNGSI HADITS

PENGERTIAN DAN PEMBAGIAN FUNGSI HADITS

 

 

 

NAMA : FITRI NUR KHOLIFAH NIM : 210231605242

Hadits   secara  bahasa  berarti  kebalikan   dari  kata  qodim  yang   berarti   terdahulu, jadi   hadits   secara   bahasa   bermakna   baru.   Sedangkan   secara   istilah   hadits   memiliki beberapa     pengertian.     Yang     pertama     hadits     memiliki     pengertian     sesuatu     yang diriwayatkan    kepada   Rasulullah    SAW    baik    berupa   perkataan,    perbuatan,    ketetapan ataupun   sifat.   Pengertian   hadits   yang   seperti   ini   disebut   dengan   “Riwayatul   Hadits”. Yang  kedua,  hadits  memiliki  pengertian  sesuatu  yang   membahas   tentang  tingkah   laku para  perowi  hadits  baik  dalam  segi  hafalan  dan  adilnya,  dan  dari  segi  bersambung  atau tidaknya  sanad  hadits  kepada  nabi.  Pengertian  hadits  ini  disebut  dengan  ilmu  “Ushulul Hadits”.  Kemudian   pengertian   hadits   yang   terakhir  yaitu   hadits   merupakan   ilmu   yang membahas   tentang   makna   yang   dapat   dipahami   dari   lafadz   –   lafadz   hadits,   maksud lafadz  –  lafadz  hadits  yang  sesuai  dengan  kaidah  Bahasa  Arab  dan  batasan  syariat,  serta sesuai dengan tingkah laku Nabi Muhammad SAW.

 

Dari  setiap   pengertian   hadits   di  atas,   memiliki  faedah   atau   manfaat   masing   – masing.    Manfaat    dari    ilmu    hadits    yang    pertama    yaitu    untuk    menjaga    sunnah nabawiyah,   mengetahui   sunnah   nabawiyah   dan   menyebarkannya   di   antara   orang   – orang  muslim.  Dengan  begitu  hadits  bisa  kekal  dan  tidak  akan  hilang.  Awal  mulanya, hadits  itu  dibukukan,  kemudian  pada  saat  masa  pemerintahan  Bani  Umayyah  tepatnya pada  saat  pemerintahan  Kholifah  Umar  bin  Abdul  Aziz,  barulah  ada  pembukuan  hadits yang  dipelopori  pleh  Imam  Muhammad  bin  Syihab  Az  –  Zuhri  r.a.  karena  takut  akan hilangnya  ilmu   dan   wafatnya  para  Ulama’.   Kemudian   manfaat  dari  ilmu   hadits   yang kedua   yaitu   mengetahui   derajatnya   hadits   baik   dari   segi   shohih   dan   hasannya   hadits agar   tidak   terjadi   penyelewengan   dalam   hadits.   Dan   untuk   manfaat   dari   ilmu   hadits yang  terakhir  yaitu  mengetahui  hukum  –  hukum  syariat,  sebagai  penjelasan  dari  Al  – Qur’an,   mengikuti   ajaran   Nabi   Muhammad   SAW   sehingga   kita   dapat   bersungguh   – sungguh  dalam  meneladani  adab  beliau  dan  meninggalkan  larangannya  agar  bisa mendapatkan kesuksesan di dunia dan di akhirat.

 

Kemudian  pengertian  dari  Sunnah   secara  bahasa  yaitu   Sirah  atau  biografi  baik yang   baik   maupun   yang   buruk.   Kemudian   secara   syara’   sunnah   memiliki   beberapa pengertian.  Menurut  ahli  hadits,  sunnah  adalah  segala  sesuatu  yang  disandarkan  kepada Nabi  Muhammad  SAW,  ada  juga  yang  mengatakan  bahkan  kepada  Shohabat  dan  orang setelah   Shohabat   yaitu   Tabi’in,   baik   berupa   ucapan,   perbuatan,   ketetapan,   maupun sifat.   Ulama’   Ushul   Fiqh   berpendapat   bahwa   sunnah   adalah   segala   sesuatu   yang bersumber   dari   Nabi   Muhammad   SAW   selain   Al   –   Qur’an,   baik   berupa   ucapan, perbuatan,    maupun    ketetapan    yang    sesuai   untuk    dijadikan    sebagai    hukum    syariat karena objek kajiannya membahas tentang dalil – dalil syariat. Kemudian Ulama’ Fiqh berpendapat  bahwa  sunnah  adalah  sesuatu  yang  telah  tetap  dari  nabi  dan  tidak  termasuk

 

ke   dalam   konteks   bab   fardhu   dan   wajib.   Karena   misi   dari   Ulama’   Fiqh   adalah membahas  tentang  hukum  –  hukum  syariat,  baik  berypa  fardhu,  wajib,  sunnah,  haram, makruh, dan mengetahui setiap hukum.

 

Sunnah   merupakan   sumber   ke   –   dua   bagi   syariat   islam.   Oleh   karena   itu, kewajiban   mengikuti   sunnah,   kembali   kepada   sunnah,   dan   berpegang   teguh   kepada sunnah  merupakan  perintah  dari  Dzat  yang  Haq,  yaitu  Allah  SWT.  Hal  tersebut  telah tercantum dalam firman Allah:

 

) 92 : ةدئالما ( اورذحاو لوسرلا اوعيطأ و : لىاعت و هناحبس الله لاق    •

) 80 : ءاسنلا ( الله عاطأ دقف لوسرلا عطي نم : لاق و   •

 

) 7 : شرلحا ( اوتهناف هنع

كمىنه ام و هوذفخ لوسرلا كمىتاء ام و : لاق و   •

 

) 21 : بازحلا ( ةنسح ةوسأ الله لوسر في  كمل نكا دقل : لاق و   •

) 31 : نارعم لأ ( كمبونذ كمل رفغي و الله كمببيح نيوعبتاف الله نوبتح تمنك  نا لق : لاق و   •

Ada juga hadits nabi yang menjelaskan tentang sunnah, berikut ini lafadz dari hadits tersebut:

))هيبن ةنس و الله باتك مابه تمكستم ام اولضت نل نيرمأ كميف تكرت(( : لّس و هيلع الله لّص لاق و Nabi Muhammad SAW bersabda : “Aku meninggalkan 2 perkara kepada kalian yang tidak kalian tidak akan tersesat apabila berpegang teguh kepada keduanya, yaitu kitab Allah (Al – Qur’an( dan sunnah Nabi – Nya”.

Hubungan sunnah dengan Al – Qur’an sangatlah erat apabila kita mengetahui jika sunnah berfungsi sebagai tafsir dari Al – Qur’an, mengungkap rahasia – rahasia yang terdapat dalam Al – Qur’an  dan sebagai penjelasan terhadap maksud dari perintah dan larangan Allah. Imam Alwi Al – Maliki berpendapat bahwa fungsi dari sunnah dibagi menjadi 4, yaitu sebagai dalil yang menyesuaikan terhadap apa yang ada di dalam Al – Qur’an, sebagai penjelas dari apa yang di maksud dari Al – Qur’an, sebagai dalil hukum yang tidak terdapat dalam Al – Qur’an, dan sebagai penasakh hukum yang telah ditetapkan dalam Al – Qur’an atas pendapat ulama’ yang memperbolehkan menasakh Al – Qur’an dengan sunnah. Kemudian secara terperinci, fungsi sunnah sebagai penjelas tentang yang dimaksud dari Al – Qur’an dibagi menjadi 4, yaitu:

  1. 1. Bayan Al – Mujmal, yaitu sebagai penjelas ayat yang bersifat global. Seperti halnya hadits – hadits yang berhubungan tentang peribadatan, hukum – hukum, tata cara, syarat – syarat, dan waktu. Karena sesungguhnya Al – Qur’an tidak menjelaskan bilangan, waktu, dan rukun – rukun sholat, dan yang menjelaskan hal – hal tersebut adalah sunna
  2. 2. Taqyid Al – Mutlaq, yaitu sebagai pembatas perkara yang mutlak. Contohnya yaitu hadits yang

menjelaskan tentang makna dari tangan dalam firman Allah :

} 38 : ةدئالما{ ) مايهديا اوعطقاف ةقراسلا و قراسلا و (

 

Yang dimaksud yaitu tangan kanan, dan yang dipotong itu pergelangan tangan, bukan siku

– siku.

  1. Takhshish  Al   –   ‘Aam,   yaitu   sebagai   hal   yang   mengkhususkan   sesuatu   yang masih  umum.  Contohnya  yaitu  hadits  yang  menjelaskan  tentang  yang  di  maksud dari  lafadz   ” “مملظلا ”  pada  surat  Al  –  An’am  ayat  82.  Jadi  yang  dimaksud  dari lafadz tersebut adalah perbuatan syirik.
  2. Taudhih Al – Musykil, yaitu sebagai penjelas ayat yang musykil.

 

PERBEDAAN SUNNAH, HADITS, KHOBAR DAN ATSAR.

 

Sunnah secara bahasa bermakna “Thoriqoh”,  sedangkan secara istilah Sunnah adalah segala sesuatu yang disandarkan kepada nabi, baik berupa ucapan, perbuatan, maupun ketetapan. Dalam konteks ini, sunnah memiliki kesamaan atau sinonim dari hadits. Ada juga pendapat yang mengatakan  bahwa hadits itu lebih khusus kepada ucapan dan perbuatan, sedangkan sunnah bersifat lebih umum. Kemudian khobar secara bahasa bermakna memunculkan, secara istilah ada yang mengatakan bahwa khobar itu sama dengan hadits. Ada juga yang mengatakan bahwa khobar itu sesuatu yang datang dari selain Nabi. Dan ada pula yang mengatakan bahwa hadits itu lebih khusus daripada khibar. Maka oleh karena itu, setiap hadits bisa dinamakan khobar, akan tetapi kalau khobar, belum tentu hadits. Dan yang terakhir adalah atsar. Secara bahasa, atsar bermakna sisa atau semisalnya, sedangkan secara istilah ada yang mengatakan bahwa atsar merupakan sinonim dari hadits seperti yang telah di ucapkan oleh Imam Nawawi. Ada juga pendapat yang mengatakan bahwa atsar itu sesuatu yang datang dari shohabat.

 

MACAM –  MACAM HADITS

 

  1. Hadits Shohih.

Secara bahasa, shohih berarti kebalikan dari kata maridh (sakit), yaitu sehat. Secara istilah Hadits Shohih adalah hadits yang sanadnya sambung yang di nuqil oleh perowi yang adil dan dhobit, tidak ada syadz (pertentangan), dan tidak ada cacatnya. Hadits shohih inilah yang bisa berfungsi sebagai dalil kedua dari Al – Qur’an.

  1. Hadits Hasan.

Hadits Hasan adalah hadits yang sanadnya bersambung, di nuqil oleh orang yang adil akan tetapi dhobitnya kurang, dan sepi dari pertentangan dalam hadits dan cacat. Syarat dari hadits hasan ini sama dengan hadits shohih, akan tetapi dhobit dari perowi hadits hasan ini lebih rendah daripada hadits shohih.

  1. Hadits Dho’if.

Dho’if secara bahasa bermakna kebalikan dari kata qowi, yaitu lemah. Sedangkan secara istilah hadits dho’if adalah hadits yang tidak memenuhi syarat – syarat diterimanya hadits. Bisa juga dikatakan sebagai hadits mardud. Hadits dho’if ini tidak bisa dijadikan sebagai dasar agama atau syariat. Akan tetapi boleh dijadikan untuk mendapatkan keutamaan, mengingat sejarah, dan lain – lain.

  1. Hadits Marfu’.

Hadits Marfu’ adalah hadits yang disandarkan kepada Nabi Muhammad SAW, baik berupa ucapan, perbuatan, maupun ketetapan. Hadits marfu’ dibagi menjadi dua, yaitu marfu’ tashrih dan marfu’ hukmi.

 

  1. Hadits Maqthu’.

Hadits Maqthu’ adalah hadits yang matannya disandarkan sampai ke tabi’in, baik berupa ucapan, perbuatan, maupun ketetapan.

  1. Hadits Mauquf.

Hadits mauquf adalah hadits yang disandarkan kepada para shohabat, baik berupa ucapan, perbuatan, maupun ketetapan.

  1. Hadits Musnad.

Hadits Musnad adalah hadits yang sanadnya sambung dari seorang perowi sampai Nabi

Muhammad SAW. Hukum dari hadits ini bisa shohih, hasan, maupun dho/if.

  1. Hadits Muttashil.

Hadits Muttashil adalah hadits yang sanadnya sambung dengan cara mendengarkan yang dilakukan oleh para perowi. Hukum dari hadits ini bisa shohih, hasan, dan dho’if.

  1. Hadits Musalsal.

Hadits Musalsal adalah hadits yang perowinya bersepakat untuk menggunakan satu sifat atau keadaan bagi seorang rowi atau periwayatan. Faidah dari hadits musalsal ini untuk menunjukkan atas hafalan rowi yang lebih dan mengikuti apa yang dilakukan oleh nabi.

  1. Hadits Mutawattir.

Adalah hadits yang diriwayatkan oleh perowi yang sangat banyak dari perowi yang sangat banyak mulai dari awal sanad hingga akhir sanad dengan kualitas perowi yang hafal dan adil dan tidak mungkin bersepakat untuk berbohong.

  1. Hadits Masyhur.

Adalah hadits yang diriwayatkan oleh lebih dari 3 perowi.

  1. Hadits Aziz.

Adalah hadits yang diriwayatkan oleh 2 atau 3 perowi.

  1. Hadits Ghorib.

Adalah hadits yang hanya diriwayatkan oleh 1 pwrowi.

  1. Hadits Mu’an’an.

Adalah hadits yang periwayatannya menggunakan lafadz “نع ”

  1. Hadits Mubham.

Adalah hadits yang di dalam matan atau sanadnya terdapat seseorang yang tidak disebut namanya. Seperti halnya menggunakan lafadz fulan atau rojul. Hadits mubham ini, apabila mubham pada sanad, maka haditsnya tidak dapat diterima, namun apabila mubham pada matan, maka masih bisa diterima.

  1. Hadits ‘Ali.

Adalah hadits yang sanadnya sedikit perowinya.

  1. Hadits Nazil.

Adalah hadits yang sanadnya banyak perowinya.

  1. Hadits Mursal.

Adalah hadits sanadnya dari kalangan sahabat dibuang. Hukum dari hadits ini ada 3, yaitu

dho’if secara mutlak, dapat dijadikan dalil secara mutlak, dan diterima dengan syarat.

  1. Hadits Munqoti’.

Hadits yang di daalam sanadnya terdapat rowi yang dibuang selain dari shohabat dan tidak

berurutan. Hukum dari hadits ini adalah dho’if.

 

  1. Hadits Mu’dhol.

Adalah hadits yang di dalamnya terdapat 2 rowi yang di buang secara berurutan.

  1. Hadits Mu’allaq.

Adalah hadits yang sanadnya dari awal hingga akhir di buang.

  1. Hadits Mudallas.

Adalah hadits yang sanad atau matannya dikaburkan. Hadits ini dibagi menjadi dua, yaitu

Tadlis Al – Isnad dan Tadlis As – Syuyukh.

  1. Hadits Syadz.

Adalah hadits yang diriwayatkan oleh orang tsiqoh dan bertentangan dengan orang yang lebih tsiqoh daripada dirinya (autsaq).

  1. Hadits Maqlub.

Adalah hadits yang di dalam sanad atau matannya dilakukan pembolak – balikan,

  1. Hadits Fardi.

Adalah hadits yang cara periwayatannya dibatasi dengan satu karakter rowi atau satu cara periwayatan.

  1. Hadits Mu’allal.

Adalah  hadits  yang  yang  mengandung  illat  atau  penyakit  yang  dapat  mencacatkan keshohihan hadits.

  1. Hadits Mudhtorib.

Adalah hadits yang berbeda – beda periwayatannya baik dalam matannya atau sanadnya dan kedua riwayat tersebut tidak bisa dikombinasi.

  1. Hadits Mudroj.

Adalah hadits yang di dalamnya terdapat sisipan, baik dalam sanad maupun matan.

  1. Hadits Mudabbaj.

Adalah hadits yang diriwayatkan oleh perowi yang saling meriwayatkan satu dengan yang lainnya dan dalam satu masa.

  1. Hadits Matruk.

Adalah hadits yang diriwayatkan  oleh satu orang yang disepakati atas kedho’ifannya

karena Rowi dianggap berbohong.

  1. Hadits Maudhu’.

Hadits yang hanya didustakan dan dinisbatkan kepada Nabi.

Share
below article banner

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *