Saturday, 15 June 2024
above article banner area

Sejarah Tidak Hanya Didominasi Oleh Kaum Adam

Tahukah kamu? Sejarah tidak hanya didominasi oleh kaum Adam. Bahkan wanita telah menorehkan tinta emas dengan berbagai prestasi yang begitu besar bagi umat. Jauh sebelum diutusnya Nabi Muhammad Saw sebagai Rasul terakhir, ada beberapa nama wanita yang dapat dijadikan teladan bagi muslimah. 

Dalam kehidupan para wanita, terdapat berbagai peristiwa luar biasa yang membuat kita terinspirasi. Kerasnya kehidupan tidak menghalanginya untuk menjadi wanita shalehah panutan umat. Mulai dari:

  1. Khadijah Binti Khuwailid
  2. Aisyah Binti Abu Bakar
  3. Fatimah Binti Rasulullah
  4. Maryam Binti Imron
  5. Asiah Binti Muzahim

Namun, disini saya akan membahas tentang Khadijah Binti Khuwailid.

Tokoh pertama yang pantas menjadi idola para wanita muslimah adalah Khadijah Binti Khuwailid. Ia adalah istri pertama Rasulullah Saw yang ikut dalam menegakkan Islam, dan berjuang membela kebenaran dari murka orang-orang Quraisy Makkah.

Sebagai wanita yang terlahir dari keluarga terhormat dan sukses dalam bisnis, Ia tak segan mendampingi Rasulullah Saw, untuk mengibarkan panji-panji Islam, agar tegak dan membawa rahmat yang luas di muka bumi. Ia tidak sungkan menyumbangkan seluruh harta benda demi keyakinan yang dianutnya, yaitu Islam sebagai risalah kebenaran. 

Khadijah Ra adalah putri Khuwailid Bin As’ad Bin Abdul Uzza Bin Qushi. Ia lahir sekitar tahun 555 M, bersal dari golongan pembesar Makkah. Ia menjadi wanita terhormat bukan hanya karena kaya namun memiliki akhlak yang mulia.

Meskipun memiliki kekayaan melimpah, Ia tidak suka hidup mewah, melainkan lebih memilih menyederhanakan hartanya untuk kepentingan sosial. Sebelum menikah dengan Rasulullah Saw, Khadijah adalah janda dari dua suami yang masing-masing meninggal dunia dan meninggalkan kekayaan berlimpah, sekaligus mempunyai jaringan perniagaan yang luas. Suami pertama Khadijah bernama Abu Halah At-Tamimi, dan yang kedua bernama Atiq Bin Aidz Bin Makhzum.

Sebagai wanita terhormat, Khadijah tidak ingin duduk manis menikmati kekayaan sendiri. Namun, Ia juga aktif sebagai pengusaha yang memiliki semangat tinggi dalam berdagang. Untuk membantu aktivitasnya itulah, kemudian Ia mengangkat beberapa pegawai untuk membawa dagangannya ke Yaman pada musim dingin, dan ke Syam pada musim panas.

Di antara para pegawai yang menjadi kepercayaannya adalah Maisarah. Maisarah dikenal sebagai pemuda yang ikhlas dan berani, sehingga Khadijah berani melimpahkan tanggung jawab untuk pengangkatan pegawai baru yang akan mengiring dan menyiapkan kafilah, menentukan harga dan memilih barang dagangan.

Pengangkatan Maisarah menjadi pembantu Khadijah inilah yang menjadi kisah awal bertemunya Muhammad dan Khadijah. Dua insan yang akan menjadi pasangan sejati di dunia dan akhirat karena mendapat rida dan keberkahan dari Allah Swt.

Sejak menjadi yatim piatu, kemudian ditinggal kakeknya, Muhammad selalu diajak berdagang oleh pamannya. Namun, sepeninggal sang Paman Abu Thalib, Ia berdagang sendiri. Kemudian Ia mengenal Maisarah, dan dipercaya membawa dagangan Khadijah untuk dijual ke negeri Syam.

Selama berniaga dengan Muhammad Bin Abdullah, Maisarah selalu mendapat keuntungan yang sangat besar, berkat kepandaian dan kejujuran Muhammad dalam berdagang. Selama berdagang dengan putra Abdullah tersebut, banyak keanehan yang dirasakan oleh Maisarah, diantaranya, Ia melihat gulungan awan tebal yang senantiasa mengiringi Muhammad, seolah-olah lelaki yang berperangai baik itu selalu terlindungi dari teriknya matahari. Tidak hanya itu, ia pun mendengar sendiri dari seorang rahib yang bernama Buhairah, menyampaikan bahwa Muhammad adalah laki-laki yang akan menjadi nabi yang ditunggu-tunggu oleh bangsa Arab, sebagaimana telah tertulis di dalam Taurat dan Injil.

Seluruh keanehan dan juga berita sang rahib diceritakan Maisarah kepada Khadijah, mendengar cerita tersebut, timbullah ketertarikan Khadijah kepada Muhammad, sehingga pergilah Khadijah menemui anak pamannya, Waraqah Bin Naufal. Waraqah sendiri menyampaikan kepada Khadijah, bahwa akan muncul nabi besar yang dinanti-nantikan manusia, dan akan mengeluarkan manusia dari kegelapan munuju cahaya Allah Swt. Penuturan Waraqah menjadikan niat dan ketertarikan Khadijah terhadap Muhammad semakin bertambah, sehingga dia ingin menjadikan Muhammad sebagai suami.

Khadijah mengutus Nafisah Binti Umayyah untuk meneliti lebih jauh tentang Muhammad, sehingga Muhammad diminta untuk menikahi dirinya. Muhammad menyetujui keinginan Khadijah. Maka dengan salah seorang pamannya, Muhammad pergi menemui paman Khadijah yang bernama Amru Bin As’ad untuk meminang Khadijah. Ketika itu Muhammad berusia 25 tahun sementara Khadijah 40 tahun. Walaupun usia mereka terpaut sangat jauh dan harta kekayaan mereka tidak sepadan, pernikahan mereka bukanlah pernikahan yang aneh, karena Allah Swt telah memberikan keberkahan dan kemulian kepada mereka.

Indahnya bahtera yang berlayar membawa dua insan mulia. Mereka berdua bagaikan sekuntum bunga yang selalu harum laksana purnama yang selalu indah dipandang. Setiap orang menaruh iri, karena kebahagiaan mereka sungguh laksana paduan cahaya yang menyinari dunia. Pernikahan yang penuh bahagia menjadi lebih bahagia karena melahirkan buah hati tercinta. Dari rahim Khadijah wanita suci inilah lahir 2 anak laki-laki bernama Qasim dan Abdullah, serta 4 anak perempuan bernama Zainab, Ruqayyah, Ummu Kulstum, dan Fatimah. Mereka lahir sebelum masa kenabian Muhammad, kecuali Abdullah.

Sebagai orang tua, Khadijah dan Muhammad mendidik anak-anaknya dengan penuh cinta dan akhlak mulia, mereka menunaikan kewajiban sebagai ibu dan ayah dengan penuh tanggung jawab, sampai anak-anak mereka tumbuh menjadi pribadi yang pintar, cerdas, dan shaleh. Setelah dewasa, dan memasuki gerbang pernikahan, Zainab dinikahkan dengan anak bibinya Abul Ash Ibnu Rabi’, Ummu Kustum dan Ruqayyah dinikahkan dengan putra Abu lahab, yaitu Atabah dan Utaibah, sedangkan Fatimah dinikahkan dengan seorang pemuda tampan nan gagah yang bernama Ali Bin Abi Thalib. Selain kepada anak-anak mereka, Khadijah dan Muhammad juga memberikan kasih sayang kepada seorang budak bernama Zaid Bin Haritsah yang sudaj dianggap anak sendiri. Zaid dibeli oleh Khadijah dari pasar Makkah kemudian dijadikan budaknya. Ketka menikah dengan Muhammad, Ia memberikannya kepada Muhammad sebagai hadiah. Rasulullah Saw sangant mencintai Zaid karena memiliki sifat-sifat terpuji. 

Muhammad dan Khadijah berumah tangga dengan penuh cinta. Sebagai seorang istri Khadijah merasa tentram di bawah naungan akhlak mulia dan jiwa suci sang suami. Ketika Muhammad menjadi tempat mengadu orang-orang Quraisy, dalam menyelesaikan perselisihan dan pertentangan yang terjadi di antara mereka. Hal itu menunjukkan betapa tinggi kedudukan Muhammad di hadapan mereka pada masa sebelum kenabian.

Memasuki masa-masa kenabian Muhammad Saw, Khadijah Ra setia menemani sang suami ke mana pun pergi. Seringkali Muhammad pergi menyendiri di Gua Hira untuk bermunajat kepada Allah Swt. Selama ditinggal suami tidak jarang Khadijah pergi menjenguknya, serta menyiapkan makanan dan minuman selama beliau di Gua Hira. Itulah langkah awal Khadijah dalam menyertai suaminya berjihad di jalan allah Swt turut menanggung pahit getirnya gangguan dalam menyebarkan agama Allah Swt. Khadijah tampil mendampingi Rasulullah Saw dengan penuh kasih sayang, cinta dan kelembutan, wajahnya senantiasa membiaskan keceriaan dan bibirnya melantunkan kata-kata yang jujur.

Setiap kegundahan Rasulullah Saw yang diceritakan kepada Khadijah atas perlakuan orang-orang Quraisy, selalu didengarkan dengan penuh perhatian, kemudian Khadijah memotivasi dan menguatkan hati Rasulullah Saw. Dari Khadijah Rasulullah memperoleh keteduhan hati dan kecerian wajah istrinya yang senantiasa menambah semangat dan kesabaran untuk terus berjuang menyebarkan agama Allah Swt ke seluruh penjuru dunia.

Ketika pulang dari Gua Hira saat menerima wahyu pertama, Rasulullah sampai ke rumah dengan tubuh gemetar, Ia langsung meminta diselimuti oleh Khadijah. Dengan tenang Khadijah menyelimuti suaminya dengan penuh kelembutan dan memberikan kehangatan pada suaminya. Setelah yakin rasulullah merasa nyaman barulah Khadijah bertanya, “Ada apa, suamiku?” rasulullah mengisahkan pertemuan dengan sesosok putih di Gua Hira. Muhammad berkata bahwa ada sesosok putih yang datang mendekapnya, lalu berkata, “Iqro’! Iqro’! (Bacalah! Bacalah!)” taka da saksi kala itu. Namun, Khadijah tidak pernah membantah kisah tersebut dan Khadijah membenarkan perkataan Rasulullah. “Demi Allah, tidak mungkin engkau akan disia-siakan dengan peristiwa ini. Engkau adalah manusia yang sangat memuliakan tamu”, kata Khadijah. “Nanti kita akan ke tempat saudaraku, Waraqah Bin Naufal, menanyakan peristiwa ini, karena dia seorang ahli kitab.”

Setelah Rasulullah menerima wahyu kedua, Rasulullah mulai berdakwah, Khadijah terus setia menemani, bahkan dia adalah orang pertama yang menyatakan kebenaran Islam kemudian disusul beberapa sahabat yang lain. Banyak tantangan yang harus dihadapi Rasulullah Saw ktika berdakwah di Makkah, caci maki dan siksaan kerapkali dirasakan. Apa yang beliau alami juga dialami para sahabat, dan perlakuan orang kafir semakin bertambah ketika paman Rasulullah Saw, Abu Thalib meninggal dunia. Tidak berselang lama, Khadijah meninggal pada 10 Ramadan tahun 10 H pada usia 65 tahun. Saat pemakamannya, Rasulullah turun ke liang lahat dan dengan tangannya sendiri memasukkan jenazah Khadijah Ra.

Karena akhlaknya yang mulia Khadijah mendapat julukan dari kaum Quraisy dengan sebutan At-Thahirah (Wanita suci). Sejak Khadijah memiliki segalanya hingga tak memiliki apa-apa, Khadijah tetap setia mendampingi Rasulullah hingga akhir hayatnya, tidak sekali pun Khadijah membuat kecewa Rasulullah. Khadijah selalu memposisikan diri sebagai makmum bagi Rasulullah. Begitulah cara Khadijah mendampingi suaminya. Susah senang, Ia selalu ada bagi Rasulullah Saw, memotivasi suaminya. Tidak salah jika di hati Rasulullah Saw selalu ada nama Khadijah sekalipun perempuan suci itu telah tiada. 

Setelah mengetahui kisah Khadijah Binti Khuwailid semoga Antum termotivasi untuk menjadi wanita sholehah, mandiri dan sukses, apa pun latar belakang Antum. Sehingga Antum mampu menorehkan tinta emas untuk umat. Aamiin.

 

Nama      : Lindha Kurniawati

Alamat    : Pondok Pesantren TIDAR, Tidar Dudan Rt 01 Rw 10 Kel. Tidar Utara Kec. Magelang Selatan Kota Magelang 56123

Nomor    : 08570265905

Share
below article banner

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *